Para Pembanyol Tahun Ini

August 6th, 2007 by enlightenment-akal-budi

Pembanyol pertama: Roy Suryo

Ia yang merasa telah melakukan riset mendalam dan mengaku menemukan versi asli lagu “Indonesia Raya” tiga stanza dari sebuah server Universitas di Belanda. Roy Suryo yang semakin tidak jelas kepakarannya di bidang apa, adalah pembanyol utama dalam acara dagelan ini. Atas seluruh usaha dan kerja kerasnya Roy Suryo berhak mendapat gelar “Man of The Year” untuk kategori the ridiculous man.

Pembanyol kedua: Media Massa

Media massa yang merespon banyolan Roy Suryo seolah-olah hal serius dan bernilai sejarah adalah pembanyol kedua atau supporting system yang pantas diapresiasi. Media massa yang paling banyak memberitakan banyolan Roy Suryo pantas dianugerahi penghargaan jurnalistik untuk kategori the ridiculous media.

Pembanyol ketiga: Jero Wacik

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang telah proaktif mengundang Roy Suryo ke kantornya untuk mempresentasikan temuan menggelikannya, adalah menteri kebudayaan yang sama sekali tidak peka sejarah. Untuk itu ia patut mendapat gelar the ridiculous minister.

Pembanyol kelima: Hidayat Nurwahid

Ketua MPR yang menyatakan bahwa persoalan lagu Indonesia Raya harus dituntaskan pemerintah sebelum 17 Agustus 2007 layak mendapat beasiswa untuk mengikuti kuliah kajian sejarah nasional agar beliau tidak hanya memahami sejarah Hasan Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin.

Pembanyol keempat: Hatta Radjasa

Untuk ketegasannya menolak seluruh kontroversi ciptaan Roy Suryo layak memperoleh penghargaan sebagai menteri kurang kerjaan 2007.

Pembanyok keenam: Masyarakat pecinta kontroversi

No comment, emang kebanyakan masyarakat kita begitu sih…..

Pembanyol ketujuh: aku sendiri

Karena menyempatkan diri menulis kekonyolan ini.

PARA PELAMAR BIDADARI

August 3rd, 2007 by enlightenment-akal-budi

Bersamaan dengan pemburuan bahan-bahan untuk buku yang sedang kutulis, kutemukan dokumen menarik karya terpidana mati Bom Bali, Ali Ghufron alias Mukhlas, berjudul: “10 Wasiat Ali Ghufran al-Tanjuluni hafidzahullah”. Dokumen ini pernah dimuat dalam www.anshar.net yang sekarang sudah almarhum setelah digropyok Densus 88.

Mungkin anda baru mendengar bahwa para suicide bombers yang beberapa waktu lalu sempat merekam video testimoni sebelum melancarkan serangan maut Bom Bali II memiliki kode “PENGANTIN” dalam aksi tersebut. Mengapa mereka disebut pengantin oleh kelompoknya?

Ali Ghufron, sang ideolog, menjelaskan dalam wasiatnya:

Demi Allah tidak kering darah orang yang mati syahid, sehingga bidadari menemuinya.

Sesungguhnya dia adalah bidadari surga, luas matanya, cantik jelita, selamanya dalam keadaan gadis, bagaikan permata yakut, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, suaranya halus lagi merdu, badannya tegap, rambutnya hitam sekali, nilai dan standartnya sangat tinggi dan besar, cantiknya luar biasa, moleknya tiada taranya, genitnya mempesona, matanya bercelak, kuku-kukunya amat indah, bicaranya sedap dan enak di dengar, penciptaanya sangat menakjubkan, akhlaknya sungguh baik, perhiasan beraneka ragam, banyak kecintaannya dan kasih sayangnya, tak mengenal bosan, cintanya semata-mata hanya untuk kalian saja tidak mengenal pria lain, selalu bermain cinta dengan kalian sesuai dengan segala kebutuhan selera birahi kalian.

Seandainya dia menampakkan kukunya, cahaya bulan purnama akan menjadi pudar dan padam. Seandainya dia memperlihatkan gelangnya pada malam hari niscaya alam persada menjadi terang benderang. Seandainya ia menampakkan pergelangan tangannya, niscaya akan terpikat seluruh manusia. Andaikan dia muncul diantara langit dan bumi niscaya keduanya akan dipenuhi dengan bau harumnya. Andaikan dia meludah di lautan, air laut akan menjadi tawar, dan andaikan telapak kakinya menginjak tanah pasir, serta merta akan tumbuh rumput diatasnya. Setiap kali kalian melihatnya, akan bertambah-tambah kecantikannya.

Apakah bagus bagi orang yang berakal, mendengar bidadari yang begitu cantiknya, lawanya, moleknya, jelitanya, baiknya, agungnya, menawannya, mempesonanya, kasihnya, sayangnya, cintanya dan segala-galanya, lalu ia duduk-duduk dan nongkrong-nongkrong begitu saja tanpa ada hasrat untuk menggapainya dan menyuntingnya???

Kalau kalian benar-benar orang yang berakal dan iman kalian normal, kalian pasti gandrung, untuk meminangnya. Adapun jalan meminangnya silakan memperhatikan bait syair yang sering dilantunkan oleh Asy-Syaikh Asy-Syahid, Abdullah Azzam, orang yang sudah pengalaman meminang dara cantik molek itu, dan Insya Allah kalian telah menggapainya, katanya: 

يَا خَاطِبَ الْحَوْرَاءِ إِنْ كُنْتَ رَاغِبًا ِبهَا # فَهَذَا أَوَّلً الْمَهْـِر وَهُوَ الْمُقَـدَّمُ

Wahai Pelamar Bidadari, jika kamu hendak menyuntingnya, maka inilah awal maskawinnya (perang) dan ia mesti di dahulukan

Para pengantin ini, menjemput kematian dengan tas punggung penuh berisi RDX dan TNT. kematiannya adalah mas kawin untuk meminang bidadari. Motif yang indah, meski mengerikan.

Syahid atau tidak, Tuhan yang menentukan. Kalau tidak sabar, silahkan anda menilai berdasar pemahaman anda sendiri tentang konsep Jihad dan Syahid yang kian multitafsir itu. Bagi aku pribadi, yang mereka lakukan adalah bunuh diri, sama dengan orang-orang yang menjirat lehernya sendiri setelah mengetahui istrinya selingkuh. Malah lebih parah lagi karena suicide bomber menyeret orang lain mati bersamanya.

Jika kutanyakan: Makhluk apa sih Jihad dan Syahid itu? Aku yakin kalian akan menjawabnya menurut apa yang kalian maui, konsep yang paling anda pahami dan paling anda ingini.

Seandainya ada suicide bomber berjenis kelamin perempuan (di Palestina sudah pernah terjadi), hadiah apa yang menantinya di surga? Bidadara…yang selalu perjaka?….

AMAZING GRACE

August 3rd, 2007 by enlightenment-akal-budi

Amazing grace! How sweet the sound

That saved a wretch like me.

I once was lost, but now am found,

Was blind, but now I see…..

Penggalan di atas adalah himne gereja gubahan John Newton (1725-1807), pendeta Calvinist-Methodist di St. Mary Woolnoth, London. Amazing Grace adalah cermin perjalanan hidup Newton yang menkonversi keimanannya dari atheis menjadi Kristen taat setelah satu peristiwa yang terjadi puluhan tahun sebelumnya. Pada sebuah kapal budak bernama Greyhound dimana Newton sendiri yang menahkodainya, hilir mudik dari pesisir Sierra Leone-India-Inggris untuk mengangkut budak. Selama 20 tahun menahkodai kapal budak, ia mengangkut sekitar 20.000 budak dari Afrika.

Kapal budak adalah sebuah fragmen yang brutal. Separuh dari budak yang diangkut dari Afrika tewas di perjalanan dan mayatnya dibuang ke laut ganas untuk—meringankan beban kapal..!!. Sesampai di tujuan para broker menyumbat lubang anus bocah-bocah hitam itu untuk menyembunyikan penyakit disentri yang mereka derita selama di kapal agar—laku dijual..!! Lalu menorehkan cap besi panas di bagian tubuh bocah-bocah malang itu untuk menandai bahwa mereka bukan lagi milik Tuhan, tapi milik manusia.

20.000 budak “tak bernama” itulah yang menghantui John Newton dalam kehidupan selanjutnya. Dalam pikir yang berkecamuk, semua pemahaman di kepalanya jungkir balik. Siapa sesungguhnya yang kera, dan siapa yang manusia? Siapa yang lebih malang? Siapa yang telah hilang, dan siapa yang buta? Lalu mengalirlah himne cantik itu.

Gereja mungkin hanya “pelarian” bagi Newton, tapi di tempat itulah ia merasa dapat hidup damai bersama 20.000 hantunya.

Seorang anak bernama William Wilberforce, putra pedagang kaya raya asal Kingston-upon-Hull, Pantai Utara Inggris, terkesima mendengar ratapan John Newton. Himne gubahan Newton membekas kuat di kepala dan hatinya. Belasan tahun kemudian, ia adalah pejuang tangguh untuk abolisi perdagangan budak di Inggris. Selama 15 tahun ia tanpa kenal lelah memperjuangkan sebuah Rancangan Undang-undang penghapusan perdagangan budak di House of Commons (parlemen). Perjuangan berat yang bukan hanya menyita pikirannya, tetapi juga telah merampas kesehatannya. Di tengah keputusasaan, Bilfercorce menjumpai John Newton, curhat. Dengan muka dingin, Newton berujar padanya: God sometimes does his work with gentle drizzle, not storms, No bolts of lightning…”

Dan perkataan Newton kemudian terbukti. Undang-undang Anti Perdagangan Budak akhirnya berlaku secara resmi di wilayah Britania Raya pada 25 Maret 1807, hanya 9 bulan sebelum kematian John Newton, 21 Desember 1807. Belas kasih Tuhan untuk semua penderitaannya.

Pengaruh himne gubahan Newton tak berhenti di situ. Di Amerika Serikat, himne Newton menjadi sangat populer, di kalangan kulit putih, para budak hitam, hingga Indian Cherokee. Versi tambahan dari Amazing Grace diberi judul “Jerussalem, My Happy Home” yang muncul dalam buku “Uncle Tom’s Cabin” karya Harriet Beecher Stowe (publish 1852). Buku ini kelak menjadi salah satu leverage factor perjuangan penghapusan budak di Amerika Serikat yang memuncak dalam Civil War.

(Sebagian tulisan di atas berasal dari film AMAZING GRACE, nggak ada bintang terkenalnya, tapi oke. Selamat menonton).