Bersamaan dengan pemburuan bahan-bahan untuk buku yang sedang kutulis, kutemukan dokumen menarik karya terpidana mati Bom Bali, Ali Ghufron alias Mukhlas, berjudul: “10 Wasiat Ali Ghufran al-Tanjuluni hafidzahullah”. Dokumen ini pernah dimuat dalam www.anshar.net yang sekarang sudah almarhum setelah digropyok Densus 88.
Mungkin anda baru mendengar bahwa para suicide bombers yang beberapa waktu lalu sempat merekam video testimoni sebelum melancarkan serangan maut Bom Bali II memiliki kode “PENGANTIN” dalam aksi tersebut. Mengapa mereka disebut pengantin oleh kelompoknya?
Ali Ghufron, sang ideolog, menjelaskan dalam wasiatnya:
Demi Allah tidak kering darah orang yang mati syahid, sehingga bidadari menemuinya.
Sesungguhnya dia adalah bidadari surga, luas matanya, cantik jelita, selamanya dalam keadaan gadis, bagaikan permata yakut, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, suaranya halus lagi merdu, badannya tegap, rambutnya hitam sekali, nilai dan standartnya sangat tinggi dan besar, cantiknya luar biasa, moleknya tiada taranya, genitnya mempesona, matanya bercelak, kuku-kukunya amat indah, bicaranya sedap dan enak di dengar, penciptaanya sangat menakjubkan, akhlaknya sungguh baik, perhiasan beraneka ragam, banyak kecintaannya dan kasih sayangnya, tak mengenal bosan, cintanya semata-mata hanya untuk kalian saja tidak mengenal pria lain, selalu bermain cinta dengan kalian sesuai dengan segala kebutuhan selera birahi kalian.
Seandainya dia menampakkan kukunya, cahaya bulan purnama akan menjadi pudar dan padam. Seandainya dia memperlihatkan gelangnya pada malam hari niscaya alam persada menjadi terang benderang. Seandainya ia menampakkan pergelangan tangannya, niscaya akan terpikat seluruh manusia. Andaikan dia muncul diantara langit dan bumi niscaya keduanya akan dipenuhi dengan bau harumnya. Andaikan dia meludah di lautan, air laut akan menjadi tawar, dan andaikan telapak kakinya menginjak tanah pasir, serta merta akan tumbuh rumput diatasnya. Setiap kali kalian melihatnya, akan bertambah-tambah kecantikannya.
Apakah bagus bagi orang yang berakal, mendengar bidadari yang begitu cantiknya, lawanya, moleknya, jelitanya, baiknya, agungnya, menawannya, mempesonanya, kasihnya, sayangnya, cintanya dan segala-galanya, lalu ia duduk-duduk dan nongkrong-nongkrong begitu saja tanpa ada hasrat untuk menggapainya dan menyuntingnya???
Kalau kalian benar-benar orang yang berakal dan iman kalian normal, kalian pasti gandrung, untuk meminangnya. Adapun jalan meminangnya silakan memperhatikan bait syair yang sering dilantunkan oleh Asy-Syaikh Asy-Syahid, Abdullah Azzam, orang yang sudah pengalaman meminang dara cantik molek itu, dan Insya Allah kalian telah menggapainya, katanya:
يَا خَاطِبَ الْحَوْرَاءِ إِنْ كُنْتَ رَاغِبًا ِبهَا # فَهَذَا أَوَّلً الْمَهْـِر وَهُوَ الْمُقَـدَّمُ
Wahai Pelamar Bidadari, jika kamu hendak menyuntingnya, maka inilah awal maskawinnya (perang) dan ia mesti di dahulukan
Para pengantin ini, menjemput kematian dengan tas punggung penuh berisi RDX dan TNT. kematiannya adalah mas kawin untuk meminang bidadari. Motif yang indah, meski mengerikan.
Syahid atau tidak, Tuhan yang menentukan. Kalau tidak sabar, silahkan anda menilai berdasar pemahaman anda sendiri tentang konsep Jihad dan Syahid yang kian multitafsir itu. Bagi aku pribadi, yang mereka lakukan adalah bunuh diri, sama dengan orang-orang yang menjirat lehernya sendiri setelah mengetahui istrinya selingkuh. Malah lebih parah lagi karena suicide bomber menyeret orang lain mati bersamanya.
Jika kutanyakan: Makhluk apa sih Jihad dan Syahid itu? Aku yakin kalian akan menjawabnya menurut apa yang kalian maui, konsep yang paling anda pahami dan paling anda ingini.
Seandainya ada suicide bomber berjenis kelamin perempuan (di Palestina sudah pernah terjadi), hadiah apa yang menantinya di surga? Bidadara…yang selalu perjaka?….