AMAZING GRACE
Amazing grace! How sweet the sound
That saved a wretch like me.
I once was lost, but now am found,
Was blind, but now I see…..
Penggalan di atas adalah himne gereja gubahan John Newton (1725-1807), pendeta Calvinist-Methodist di St. Mary Woolnoth, London. Amazing Grace adalah cermin perjalanan hidup Newton yang menkonversi keimanannya dari atheis menjadi Kristen taat setelah satu peristiwa yang terjadi puluhan tahun sebelumnya. Pada sebuah kapal budak bernama Greyhound dimana Newton sendiri yang menahkodainya, hilir mudik dari pesisir Sierra Leone-India-Inggris untuk mengangkut budak. Selama 20 tahun menahkodai kapal budak, ia mengangkut sekitar 20.000 budak dari Afrika.
Kapal budak adalah sebuah fragmen yang brutal. Separuh dari budak yang diangkut dari Afrika tewas di perjalanan dan mayatnya dibuang ke laut ganas untuk—meringankan beban kapal..!!. Sesampai di tujuan para broker menyumbat lubang anus bocah-bocah hitam itu untuk menyembunyikan penyakit disentri yang mereka derita selama di kapal agar—laku dijual..!! Lalu menorehkan cap besi panas di bagian tubuh bocah-bocah malang itu untuk menandai bahwa mereka bukan lagi milik Tuhan, tapi milik manusia.
20.000 budak “tak bernama” itulah yang menghantui John Newton dalam kehidupan selanjutnya. Dalam pikir yang berkecamuk, semua pemahaman di kepalanya jungkir balik. Siapa sesungguhnya yang kera, dan siapa yang manusia? Siapa yang lebih malang? Siapa yang telah hilang, dan siapa yang buta? Lalu mengalirlah himne cantik itu.
Gereja mungkin hanya “pelarian” bagi Newton, tapi di tempat itulah ia merasa dapat hidup damai bersama 20.000 hantunya.
Seorang anak bernama William Wilberforce, putra pedagang kaya raya asal Kingston-upon-Hull, Pantai Utara Inggris, terkesima mendengar ratapan John Newton. Himne gubahan Newton membekas kuat di kepala dan hatinya. Belasan tahun kemudian, ia adalah pejuang tangguh untuk abolisi perdagangan budak di Inggris. Selama 15 tahun ia tanpa kenal lelah memperjuangkan sebuah Rancangan Undang-undang penghapusan perdagangan budak di House of Commons (parlemen). Perjuangan berat yang bukan hanya menyita pikirannya, tetapi juga telah merampas kesehatannya. Di tengah keputusasaan, Bilfercorce menjumpai John Newton, curhat. Dengan muka dingin, Newton berujar padanya: “God sometimes does his work with gentle drizzle, not storms, No bolts of lightning…”
Dan perkataan Newton kemudian terbukti. Undang-undang Anti Perdagangan Budak akhirnya berlaku secara resmi di wilayah Britania Raya pada 25 Maret 1807, hanya 9 bulan sebelum kematian John Newton, 21 Desember 1807. Belas kasih Tuhan untuk semua penderitaannya.
Pengaruh himne gubahan Newton tak berhenti di situ. Di Amerika Serikat, himne Newton menjadi sangat populer, di kalangan kulit putih, para budak hitam, hingga Indian Cherokee. Versi tambahan dari Amazing Grace diberi judul “Jerussalem, My Happy Home” yang muncul dalam buku “Uncle Tom’s Cabin” karya Harriet Beecher Stowe (publish 1852). Buku ini kelak menjadi salah satu leverage factor perjuangan penghapusan budak di Amerika Serikat yang memuncak dalam Civil War.
(Sebagian tulisan di atas berasal dari film AMAZING GRACE, nggak ada bintang terkenalnya, tapi oke. Selamat menonton).